Pada suatu hari sepasang kekasih yang sudah lama menjalani hubungan,
bertengkar sangat hebat sekali. emosi seorang laki-laki yang meluap,
mengakibatkan kekecewaan sang wanita semakin membahana dan membuat sang
wanita sangat sulit untuk memaafkan kesalahannya.
Seribu kata maaf yang
terlontar dari lisan sang pacar di hiraukannya tanpa sedikit kata yang
terucap dari lisan sang wanita, seolah air yang membasahi lidahnya sudah
mengering.
Matahari terlelap, sunyi suasan dan sepi menemani renungannya akan
kesalahan yang telah ia perbuat. Tatapan kosong dia lemparkan menuju
langit dan berharap cinta bersinar terang menghiasi hari-harinya.
Terinspirasi oleh gugusan bintang yang sangat terang, “ia berencana membeli 10 bunga asli dan 1 bunga palsu”
Ayam berkokok dan matahari mulai terbit. Ia bergegas bangun dan mandi
lalu pergilah ia menuju sebuah toko bunga. di belinya 10 bunga mawar
dan 1 bunga yang terbuat dari pelastik yang menyerupai bunga mawar.
Dengan penuh harapan dan optimis yang luar biasa. Ia melanjutkan
perjalanannya menuju rumah kekasihnya. Singkat kata, ia mengetuk pintu
rumahnya dan kebetulan kekasihnya yang membukakan pintu. Dengan penuh
emosi wanita itu menutup kembali pintu rumahnya, karna rasa kecawanya
belum reda dan tidak mau menemui si pria malang itu.
Di hadangnya pintu yang mau tertutup dengan kakinya dan langsung
berlutu dengan memberikan karangan bunga mawar seraya meminta maaf. “Wanita itu diam tanpa kata seolah memberi kesempatan untuk kekasihnya berbicar” Dengan kesungguh-sungguhannya ia minta maaf akhirnya sang hati sang wanita luluh dan menerima maafnya. Lalu pria itu berkata,
“Aku bawakan 1o bunga mawar yang asli dan 1 bunga mawar palsu dan
cintaku padamu hanya akan berhenti ketika bunga yang terakhir layu dan
mati.”
No comments:
Post a Comment